Sufi Yang Tak Butuh Uang

Sufi Yang Tak Butuh Uang



Kemakmuran dan kesejahteraan manusia selalu dikaitkan dengan banyaknya harta. Pandangan seperti ini tentu saja menggerus nilai-nilai religiusitas umat Islam. Semua hal di dunia ini selalu dikaitkan dengan hal-hal yang berbau material. Engkau pernah mendengar, seorang kepala daerah yang memberi hadiah bagi orang-orang yang berjamaah Subuh. Engkau juga pernah mendengar, perjalanan haji dengan segudang fasilitas, mulai pesawat VVIP, hotel bintang lima, sampai melancong usai beribadah. Sekali lagi, engkau juga tahu ada yang menyarankan bersedekah kepada orang yang membutuhkan agar nantinya diganti oleh Allah subhanahu wa taala dengan yang lebih banyak lagi. Semua ritual keagamaan selalu disandingkan dengan hal-hal yang bersifat material. 

Tahukah engkau dengan sosok seorang sufi yang tersohor bernama Syeikh Junaid Al-Baghdadi? Beliau memiliki pengikut yang tidak terhitung jumlahnya. Beliau juga memilliki jamaah yang jumlahnya ribuan. Satu atau dua dari ribuan jamaah tersebut pasti juga ada yang berpikir bahwa Syeikh Junaid Al-Baghdadi memiliki pikiran yang sama dengan mereka: butuh uang. Pada suatu hari, salah seorang pengikut Syeikh Junaid Al-Baghdadi mengunjunginya. Pengikutnya itu datang dengan membawa uang emas sejumlah lima ratus keping. Jika dibandingkan dengan mata uang sekarang, mungkin sekitar lima milyar rupiah!

Orang itu pun mengendap-endap di bawah kaki Syeikh Junaid Al-Baghdadi. "Dengan segenap kerelaan," kata pengikut itu kepada Syeikh Junaid. "Saya akan memberikan uang emas berjumlah lima ratus keping ini untuk engkau. Saya mohon, sudilah engkau menerimanya." Syeikh Junaid tertegun sejenak, lalu bertanya, "Apakah engkau memiliki uang lebih dari ini?" 

"Ya, saya punya lebih dari ini," jawab pengikut itu tanpa ragu. "Apakah engkau ingin jumlah uangmu lebih banyak lagi," tanya Syeikh Junaid. "Tentu saja aku ingin lebih banyak." Jawab pengikut itu. 

"Kalau begitu, engkau harus menyimpan uang emas yang kau berikan padaku ini." kata Syeikh Junaid sambil mengembalikan uang emas itu. "Kenapa begitu, Syeikh?" Tanya pengikut itu. 

"Engkau lebih membutuhkannya daripada aku." Kata Syeikh Junaid. "Aku tidak memiliki apapun dan tidak menginginkan apapun. Engkau membutuhkannya dan selamanya ingin lebih banyak." 

Pengikut itu terhenyak dengan jawaban Syeikh Junaid. Ia tidak menyangka, uang emas sebanyak itu ditolak mentah-mentah oleh Syeikh Junaid. Padahal kalau harus bekerja, butuh lebih dari lima tahun untuk menghasilkan uang emas sebanyak itu. Lantas, kenapa Syeikh Junaid menolak pemberian cuma-cuma itu? Rasa Penasarannya tidak terjawab meski Syeikh Junaid telah menjawab dengan terang benderang. Di sisi lain, pengikut itu merasa kehilangan ksesempatan untuk mendapatkan berkah dari Syeikh Junaid atas pemberian uang emasnya. Ya, ia beranggapan sama dengan umat Islam pada umumnya; jika memberi banyak maka akan berharap akan diberi lebih banyak. Pamrih!

Masyallah, jika kita perhatikan begitu besar hikmah yang terkandung di dalam kisah ini, bahwa sebetulnya harta atau material bukanlah sesuatu yang paling berharga di dalam hidup, karena tolak ukur kebahagiaan seseorang tidak bisa dinilai dari banyaknya harta atau materi yang dimilikinya, melainkan ketulusan hati untuk menerima semua pemberian dari Allah swt. Harta merupakan salah satu godaan terbesar di dalam kehidupan, bahkan seirngkali harta bisa membawa bencana bagi yang membawanya. Maka hikmah yang bisa dipetik dari kisah diatas adalah bahwa harta atau materi bukan segalanya, sebab tolak ukur kebahagiaan seseorang tidak dinilai dari harta yang dimilikinya, melainkan dari ketulusan hatinya. Semoga bermanfaat. 


Sumber: Kisah Hikmah Para Sufi Dan Ulama Salaf