Darwis yang Tidak Bijaksana

Darwis yang Tidak Bijaksana


Seorang Darwis adalah orang yang mengabdikan hidupnya di jalan sufi untuk menemukan hakekat kebenaran dari Al-Haq. Mereka juga mengajarkan ilmu-ilmu sufi kepada siapapun yang ingin belajar kesufian. Pada suatu hari, seorang Darwis yang shaleh menyusuri tepi sungai. Perjalanan itu untuk memastikan bahwa moral dan ajaran masyarakat tepi sungai benar-benar tertata. Ya, kedua pokok tersebut memang menjadi perhatian pengajaran Sufi dalam mazhabnya. Ketika berada di tepi sungai yang tiada penduduknya, ia mendengar suara teriakan yang keras. Suara itu berasal dari pulau di tengah sungai. Suara itu mengulang-ulang ungkapan yang sering digunakan oleh Darwis. 

Uuuu... yaaaa... huuuu...! Uuuu... yaaaa... huuuu! Uuuu... yaaaa... huuuu....!

Teriakan keras itu membuat sang Darwis jengkel. Beliau kemudian menggerutu karena ucapan keras itu salah dan diulang-ulang. "Sungguh tak berguna!" kata Darwis kepada diri sendiri. "Orang itu salah mengucapkannya. Sebenarnya diucapkannya Yahu. Tapi dia mengucapkan Uyahu." 

Tetapi, ia kemudian sadar bahwa sebagai Darwis yang lebih teliti, ia berkewajiban untuk meluruskan ucapan orang itu. Maka dalam pikirannya beliau berpendapat untuk meluruskan kesalahan Orang itu. 

" Mungkin orang itu tidak pernah mempunyai kesempatan mendapat bimbingan yang baik," Katanya pada diri sendiri. "Sebaiknya, aku membetulkan apa yang diucapkannya."

Demikianlah, kemudian Darwis itu menyewa perahu dan mendayungnya menuju ke pulau di tengah-tengah sungai. Sesampainya di pulau itu, Darwis menemukan orang yang sedang duduk di sebuah gubuk alang-alang sambil terus mengucapkan Uyahu. 

"Sahabat," kata Darwis. "Engkau keliru mengucapkan ungkapan itu. Saya berkewajiban memberitahu engkau. Sebab, ada pahala bagi orang yang memberi dan menerima." 

"Oh," kata Orang itu. "Bagaimana seharusnya saya mengucapkannya?" 

"Begini." Kata Darwis membisikan sebuah ungkapan yang diyakini benar. Kemudian Darwis memberitahukan kepada Orang itu bagaimana cara mengucapkan ungkapan itu. Darwis merasa bangga telah memberitahu kebenaran kepada orang yang salah mengucapkan ungkapan itu. 

"Terima kasih," kata Orang itu dengan rendah hati. "Aku sangat senang mendapat penyempurnaan dalam berucap dari engkau. Sekali lagi terimakasih." Dengan puas hati karena telah berhasil menasehati, Darwis kembali ke perahunya. Beliau bermaksud kembali ke tepi sungai untuk melanjutkan perjalanan guna memastikan bahwa moral dan ajaran agama benar-benar dilaksanakan masyarakat dengan benar. 

"Ya, jika orang itu bisa mengulang-ulang ungkapan rahasia itu dengan benar, dia kemungkinan bisa berjalan di atas air." Kata Darwis pada diri sendiri. "Aku memang belum pernah menyaksikan sendiri. Tetapi, aku sangat ingin bisa melakukannya."

Setelah sampai di tepi sungai, ia tak lagi mendengar suara ungkapan itu. Ia yakin bahwa nasihatnya telah dilaksanakan sebaik-baiknya oleh Orang itu. Namun, tiba-tiba ia mendengar lagi ungkapan itu. 

Uuuu... yaaaa... huuuu....! Uuuu... yaaaa...huuuu....! Uuuu... yaaaa...huuuu....! 

Suara itu berulang-ulang didengarnya. 

"Bagaimana ia mengulang ucapan yang salah!" kata Darwis itu pada diri sendiri. "Ah, betapa manusia memang suka bersikeras mempertahankan kekeliruannya!" 

Setelah berucap seperti itu, tiba-tiba disaksikannya pemandangan yang menakjubkan! Dari arah pulau itu, Orang di pulau itu tampak menuju perahu Darwis. Orang itu berjalan di atas air! 

Setelah orang itu benar-benar dekat dengannya, Darwis pun duduk bersimpuh di hadapan Orang itu. 

"Bangunlah saudaraku," kata Orang itu. "Maafkan saya telah mengganggu engkau. Saya datang untuk menanyakan cara yang benar untuk mengucapkan ungkapan yang engkau beritahukan kepada saya tadi. Sulit benar rasanya aku mengingat-ingatnya." 

Darwis itu tetap bersimpuh. Beliau menyadari bahwa menyebarkan ilmu itu tidak sekedar tahu sedikit. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda : "Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat." (HR. Bukhari) 

Hadits tersebut bukan berarti mengajari seseorang dengan ilmu yang sedikit. Bukan sampaikanlah ilmu walau kita hanya tahu satu ayat, tetapi sampaikanlah ilmu walau satu ayat. Jika Darwis itu bertanya lebih dahulu kepada Orang itu tentang ucapannya dipelajari darimana, mungkin Darwis itum tidak akan mengajari orang yang lebih tahu darinya. 

Orang yang tahu sedikit tentang sesuatu dan hendak memberi tahu orang lain tentang apa yang sedikit diketahuinya itu sesungguhnya seperti ungkapan katak dalam tempurung. Merasa dirinya sudah tahu banyak, padahal masih banyak yang harus dipelajari. Pelajaran lain dari kisah ini adalah, merasa benar dengan apa yang diketahui tanpa mencari tahu apakah yang diketahui itu sudah benar atau belum benar adalah kesalahan dalam mencari ilmu. Dalam tradisi Islam, kita mengenal tradisi mengkaji. Kegiatan mengkaji inilah yang digunakan ilmuwan Islam untuk menemukan kebenaran dari apa yang mereka ketahui. Maka dari itu, kita juga mengenal istilah perawi dan kesahihan dalam ilmu hadis. 


Semoga bermanfaat. 

(Kisah Hikmah Para Sufi Dan Ulama Salaf)