Seorang Sufi Dari Turki


Seorang Sufi Dari Turki


Konon, pada suatu malam, seorang raja yang tiran di Turkistan sedang mendengarkan kisah-kisah yang yang disampaikan oleh seorang Darwis. Tiba-tiba, raja itu bertanya kepada Darwis tentang Nabi Khidir. "Wahai Darwis, tahukah engkau cerita Nabi Khidir?" tanya sang Raja. "Khidir?" kata Darwis itu. "Ia datang jika diperlukan. Ketika seseorang berhasil memegang jubah Nabi Khidir, maka segala pengetahuan akan menjadi milik orang itu." 

"Apakah itu bisa terjadi pada semua orang?" 

"Pada semua orang!" Kata Darwis  

"Kalau begitu, aku harus mendatangkannya." Kata Raja. "Aku tidak mau seorang pun lebih pintar dan lebih berkuasa daripada aku."

Esok harinya, Raja tersebut mengadakan sayembara yang berbunyi: "Barangsiapa bisa menghadirkan Khidir, maka aku akan membuatnya menjadi orang kaya!" 

Sayembara itu menyebar ke seluruh negeri Turkistan. Kabar tentang adanya sayembara itu akhirnya sampai ke telinga seorang lelaki miskin buta bernama Bakhtiar Baba. Setelah mendengar sayembara itu, ia pun mulai menyusun akal. 

"Aku punya rencana." Kata Bakhtiar Baba kepada istrinya. "Kita akan segera kaya, namun tak beberapa lama kemudian, aku harus mati. Tidak mengapa, sebab kekayaan kita itu bisa menghidupimu dan anak-anak kita." 

Di kemudian hari, Bakhtiar Baba menghadap Raja tersebut dengan penuh tekad. "Paduka Raja," kata Bakhtiar Baba. "Izinkan hamba mengikuti sayembara itu. Jika Paduka Raja bersedia memberiku seribu keping uang emas, hamba akan mencari Nabi Khidir dalam waktu empat puluh hari."  "Tentu saja." Kata sang Raja. "Kalau kau bisa menemukan Nabi Khidir dan membawanya kemari, maka kau akan mendapat sepuluh ribu keping uang emas. Tapi, jika gagal, kau akan mati! Kau akan dipancung di tempat ini sebagai peringatan kepada siapapun yang mencoba mempermainkan rajanya."

"Hamba bersedia menerima syarat-syarat Paduka." Kata Bakhtiar Baba mantap. Kemudian ia berpamitan dan pulang memberikan uang emas kepada istrinya sebagai jaminan hari tuanya. Ia tidak kemana-mana. Tidak mencari Nabi Khidir pula. Di sisa hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu, ia pergunakan untuk merenung dan mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain. Sampai tiba pada hari keempat puluh. Dengan langkah tegas Bakhtiar Baba menghadap Raja. Setibanya di depan Paduka Raja, ia mengutarakan apa yang ia pikirkan. "Paduka Raja," kata Bakhtiar Baba. "Kerakusanmu telah menyebabkan paduka berpikir bahwa uang emas akan bisa mendatangkan Nabi Khidir. Tetapi Nabi Khidir tidak akan muncul oleh karena undangan yang berdasarkan kerakusan." Sang Raja sangat terkejut dengan ucapan Bakhtiar Baba. Ia marah semarah-marahnya. 

"Orang celaka!" kata sang Raja. "Kau tidak eman-eman dengan nyawamu! Siapa pula kau ini? Beraninya kau campuri keinginanku?" 

"Ketahuilah," Kata Bakhtiar Baba. "Konon, semua orang bisa bertemu Nabi Khidir. Tetapi, pertemuan itu hanya akan terjadi apabila maksud dan niat orang itu benar. Nabi Khidir akan menemui seseorang selama orang itu bisa memberi manfaat saat kunjungannya itu. Itulah hal yang tidak ada dalam dirimu!"

"Cukup!" Bentak sang Raja. "Ocehanmu itu tidak akan memperpanjang hidupmu. Aku hanya tinggal meminta para menteri yang berkumpul di sini agar memberikan pendapat tentang cara yang terbaik untuk menghukummu!" 

Paduka Raja lantas bertanya pada Menteri Pertama, Menteri Kedua, dan Menteri Ketiga. "Bagaimana cara orang itu mati?" tanya Paduka raja kepada ketiga menterinya. "Panggang dia hidup-hidup sebagai peringatan!" jawab Menteri Pertama m.  "Potong-potong tubuhnya! Pisah-pisahkan anggota badannya."  Jawab Menteri Kedua.  "Sediakan kebutuhan hidup orang itu agar ia tidak menipu lagi demi kelangsungan hidup keluarganya." Jawab Menteri Ketiga. 

Ketika pembicaraan antara Sang Raja dan para Menteri berlangsung, seseorang tua yang bijaksana memasuki ruang pertemuan itu. Semua orang yang hadir di tempat itu terperanjat dengan kehadiran Orang Tua itu. 

" Setiap orang mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi di dalam dirinya." Kata Orang Tua itu. 

"Apa maksudmu?" tanya Raja. "Maksudku," kata Orang Tua itu, "Menteri Pertama itu sebenarnya Tukang Roti, jadi ia berbicara tentang panggang-memanggang. Sementara itu, Menteri Kedua dulunya adalah Tukang Jagal. Jadi, ia berbicara tentang potong-memotong daging. Dan, Menteri Ketiga, hanya dia yang telah mempelajari ilmu kenegeraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini dengan bijaksana." 

Semua yang hadir di pertemuan itu terpana dengan penjelasan Orang Tua itu. Paduka Raja juga hanya diam termangu. 

"Catat dua hal ini," lanjut Orang Tua itu. "Pertama, Khidir muncul melayani setiap orang sesuai kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini kuberi nama Baba yang artinya Bapak dalam bahasa Persia. Ia didesak oleh keputusasaanya sehingga melakukan tindakan menipu. Aku tahu, keperluannya semakin mendesak. Maka, aku pun muncul di depanmu!"

Ketika orang-orang itu memperhatikannya, Orang Tua yang bijaksana itu pun lenyap dari pandangan mata. Raja pun terkejut dan baru menyadari bahwa Orang Tua yang hadir tanpa diundang itu adalah Nabi Khidir, ia sudah tidak sempat lagi berpikir untuk memegang jubahnya karena kesadarannya untuk berbuat baik sudah mulai ada sejak dinasihati oleh Nabi Khidir tadi. Sesuai yang diperintahkan Nabi Khidir, Raja memberikan belanja teratur kepada Bakhtiar Baba. Sementara itu, Menteri Pertama dan kedua dipecat dengan tidak hormat dan kembali lagi menjadi tukang roti dan tukang jagal. Bakhtiar Baba sendiri bertekad mengembalikan seribu keping uang emas yang dulu ia terima dari sang Raja untuk dikembalikan ke kas kerajaan. 

Semoga bermanfaat. 


Sumber: Kisah Hikmah Para Sufi Dan Ulama Salaf