Menawar Malaikat Izrail
Seberapapun banyak harta yang kita miliki, tidak akan mampu kita bawa mati. Kematian hanya memperkenankan kita untuk membawa amalan baik kita. Hasil dari amalan baik kita yang berupa harta, misalnya bekerja dengan halal, tetap akan kita tinggalkan di dunia. Sebab, Allah telah menyediakan "harta" lain untuk kita di akhirat kelak. "Harta" yang diberikan Allah itu adalah imbalan atas semua amal baik yang telah kita kerjakan di dunia. Di lain hal, kematian adalah keniscayaan bagi seluruh makhluk Allah. Jika sudah ditentukan waktunya datang kematian, maka matilah manusia itu. Tidak ada hal yang dapat menegosiasi kematian, termasuk harta yang kita miliki.
Fulan adalah pemuda yang bekerja keras. Ia ahli dalam perdagangan dan pertanian sehingga menuai banyak keberhasilan sampai di usianya yang masih cukup muda. Setelah bertahan-tahun bekerja, ia berhasil mengumpulkan uang emas sebanyak sepuluh ribu keping. Selain itu, ia memiliki tanah yang luas dan rumah yang banyak dan segala macam harta benda. Pada suatu ketika, ia berencana untuk beristirahat dari bekerja selama satu tahun. Fulan ingin menikmati hidup dengan nyaman dan merencanakan mengenai bagaimana masa depannya. Akan tetapi, baru saja ia berhenti mengumpulkan harta, Malaikat Izrail datang di hadapannya. Si Fulan terkejut dengan kehadiran Malaikat Izrail yang tiba-tiba itu.
"Kau mengejutkanku dengan datang tiba-tiba." tanya si Fulan. "Apa yang ingin kau lakukan, wahai Izrail?"
"Tentu saja aku akan mencabut nyawamu." Kata Malaikat Izrail. "Apa?" si Fulan benar-benar terkejut. "Bagaimana kau bisa melakukan itu padaku?" Kau datang tiba-tiba ketika aku ingin menikmati hasil kerjaku di dunia ini. Apakah engkau ingin merebut seluruh hartaku?"
"Aku tidak inginkan hartamu. Aku inginkan nyawamu." Jawab Izrail tegas.
Si Fulan mengendorkan emosinya melihat ketegasan Malaikat Izrail itu. Dengan segala daya upaya, Fulan berusaha menegosiasi Malaikat Izrail agar tidak mencabut nyawanya pada hari itu.
"Wahai, Izrail." Kata Fulan. "Tidakkah engkau berbelas kasihan padaku? Aku telah bertahun-tahun bekerja keras. Dan, dalam setahun ke depan, aku ingin menikmati hasil kerja kerasku. Berilah aku waktu menikmatinya. wahai Izrail."
"Aku ditugaskan mencabut nyawamu saat ini, bukan di saat yang lain." Kata Malaikat Izrail masih dengan ketegasan yang sama.
"Bantulah aku, wahai Izrail." Kata Fulan memelas. "Tolonglah, hanya tiga hari saja. Aku hanya ingin menikmati hasil kerjaku saja."
"Tidak." Kata Malaikat Izrai tegas. "Aku ditugaskan mencabut nyawamu saat ini, bukan di saat lain."
"Tolonglah, tiga hari saja." Rayu Fulan. "Nanti akan kuberikan sepertiga hartaku untukmu."
"Tidak." Kata Malaikat Izrail dan mulai mencabut nyawa Fulan.
"Aku ditugaskan mencabut nyawamu saat ini, bukan di saat lain."
"Ayolah, wahai Izrail yang baik." Kata Fulan. "Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari lagi maka akan kuberi engkau dua ratus ribu keping emas dari gudangku."
Si Fulan tak lelah merayu Malaikat Izrail. Namun, nampaknya Malaikat Izrail tetap pada keputusannya. "Tidak. Aku tidak akan berhenti mencabut nyawamu meski kau berikan seluruh hartamu kepadaku." Kata Malaikat Izrail dan terus mencabut nyawa Fulan.
"Ah! Teteapi, berilah aku waktu untuk menulis wasiat dengan darahku sendiri." Pinta Fulan.
"Baiklah." Kata Malaikat Izrail berhenti mencabut nyawa dan membiarkan Fulan menulis wasiat dengan darahnya sendiri. Kemudian si Fulan menyilet lengannya. Ketika keluar darahnya, maka si Fulan mulai menulis dengan tinta darah itu di atas selembar kertas:
Wahai anak manusia, manfaatkanlah hidupmu dengan sungguh-sungguh!
Ketahuilah, Malaikat Izrail tidak mau berhenti mencabut nyawaku meski akan aku berikan seluruh hartaku kepadanya. Pastikan engkau menyadari nilai dari waktu yang engkau miliki!
Kapanpun Malaikat Izraik datang, kita harus siap untuk menyerahkan nyawa kita dicabut olehnya. Oleh sebab itu, jika setiap hari kita hanya mengumpulkan harta, kita tidak akan membawa apa-apa ke akhirat kelak. Jika kita mengumpulkan amal kebikan, maka amal kebaikan itulah yang akan membuat kita bisa hidup nyaman di akhirat kelak.
Semoga bermanfaat.
(Kisah Hikmah Para Sufi dan Ulama Salaf)
