Kesombongan Seorang Sufi
kesombongan bukan hanya milik orang biasa. Orang yang telah menempuh jalan sufi pun tergoda melaukan kesombongan. Ya, kesombongan selalu hadir secara halus dalam diri manusia, begitu pula pada manusia sufi. Diceritakan, pada suatu ketika, Hasan Al-Basri berada di tepi sungai Dajlah di Irak. Ia melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak. Sebuah bisikan yang sangat halus memaksa Hasan Al-Basri berkata dalam hatinya tentang sesuatu yang tidak sungguh-sungguh ia ketahui. Dan, Hasan Al-Basri terlena dengan bisikan jahat itu.
"Betapa bejat akhlak orang itu." kata Hasan Al-Basri dalam hati. "Seandainya saja dia seperti aku. Maka jadi baiklah dunia ini." Seyampang kemudian, sebuah perahu tenggelam di sungai itu. Hasan Al-Basri melihatnya dengan jelas situasi yang tidak menguntungkan itu. Pasti di dalam perahu itu ada penumpangnya. Sementara itu, pemuda yang duduk di tepi sungai bersama seorang perempuan dan sebotol arak tadi segera terjun ke sungai. Ia berenang dan mencoba menolong penumpang perahu yang tenggelam itu. Ada enam orang yang berhasil diselamatkan. Sementara itu, satu penumpang lain masih tenggelam.
Melihat Hasan Al-Basri yang berdiri saja tanpa melakukan apapun, pemuda itu berkata kepadanya. "Wahai, Tuan." Kata Pemuda itu. "Jika engkau memang lebih mulia daripadaku, selamatkanlah seseorang yang belum sempat saya tolong itu." Hasan Al-Basri tergugah hatinya kemudian terjun ke sungai, Hasan Al-Basri telah berusaha sekuat tenaga untuk menolong orang yang tenggelam itu. Akan tetapi, ia gagal menyelamatkan penumpang yang tersisa.
"Wahai, Tuan," kata pemuda itu. "Perempuan yang duduk di samping saya ini adalah Ibu saya sendiri. Jika kau kira di dalam botol itu adalah minuman keras, itu juga salah. Isinya hanya air mineral biasa. Ya, aku bukan peminum anggur atau arak." Hasan Al-Basri sungguh terkejut bahwa apa yang diucapkan dalam hatinya mampu di dengar oleh pemuda itu. Lalu, Hasan Al-Basri tersadar bahwa pemuda itu bukanlah pemuda biasa. "Wahai, Pemuda yang bijaksana." Kata Hasan Al-Basri. "Tolong, selamatkan aku seperti engkau menyelamatkan keenam orang yang tenggelam itu tadi."
"Selamatkan dari apa, Tuan?" tanya pemuda itu. "Aku telah tenggelam dalam kebanggaan dan rasa sombong." Kata Hasan Al-Basri. "Aku akan sangat bahagia jika kau sudi menyelamatkan aku."
"Aku hanya bisa berdoa, Tuan." kata pemuda itu. "Semoga Allah Subhanahu wa taala mengabulkan permohonanmu." Ilmu merendahkan hati memang sangat sulit dipelajari. Tapi, sejak peristiwa itu, Hasan Al-Basri berusaha sekuat mungkin untuk rendah hati bahkan setiap detiknya. Sehingga, Hasan Al-Basri pada akhirnya menjadi sufi yang sesungguhnya, terbebas dari membanggakan diri dan rasa sombong. Begitulah, kealiman seseorang membuat syetan melancarkan serangan yang lebih halus dari bisikan kalbu kita. Para setan itu menyanjung-nyanjung kita sebagai orang orang alim. Padahal, senyatanya mereka hanya menjerumuskan kita ke dalam limbah kesombongan. Naudzubillah min dzalik.
Semoga bermanfaat.
((Kisah Hikmah Para Sufi Dan Ulama Salaf)
