Hati Orang Gila
Seorang sufi dalam mencari Al-Haq kadang memiliki perilaku-perilaku di luar kewajaran. Kita mengenal banyak sufi yang menyamar jadi pengemis, jadi musafir yang tidak berumah dan bahkan jadi orang gila. Jalan kesufian kadang menuntut seseorang untuk mempraktekan sesuatu yang bahkan tidak biasa ia lakukan. Oleh sebab itu, dalam ilmu sufi, kita tidak diperkenankan menilai kesufian orang lain dengan cara serampangan. Kita harus menggali bukti sehingga kita dapat menyimpulkan kesufian seseorang itu. Kisah berikut ini mengajarkan kita bagaimana menilai seseorang.
Seseorang sedang menangis di pinggir jalan. Pakaiannya compang-camping dan kotor. Tubuhnya dekil seperti tidak pernah terkena air wudlu. Ya, orang itu dikenal di daerah itu sebagai orang gila. Setiap hari ia menangis di pinggir jalan itu. Suara tangisannya memilukan sekali. Hatinya tampak sedang diliputi kesedihan yang sangat. Orang-orang hanya memberinya makanan untuk dilahap. Mereka menyangka, orang gila itu sedang lapar. Pada suatu kesempatan, dua orang yang merasa iba menghampirinya. Mereka menemui orang gila itu bermaksud untuk menghibur. Kemudian, bertanyalah orang pertama kepada orang gila itu, "Setiap hari engkau berada di sini. Setiap hari engkau menangis. Apa yang engkau tangisi?"
"Aku menangis karena aku ingin dikasihani." Jawab orang gila itu. "Dikasihani siapa?" Orang pertama bertanya lagi. "Bukankah orang-orang telah kasihan kepadamu. Setiap lapar engkau diberi makan bahkan ada yang mau memberimu tumpangan untuk melanjutkan hidup?" "Aku hanya ingin menarik belas kasihan hati-Nya." Jawab orang gila itu. Dua orang itu terkejut dengan jawaban orang gila itu. Mereka mengira orang itu mengada-ada saja selayaknya orang gila biasa. "Kau bohong." kata Orang Kedua. "Dia tidak memiliki hati lahiriah." "Engkau salah!" tegas orang gila itu. "Dia adalah pemilik seluruh hati yang ada. Melalui hati engkau dapat berhubungan dengan-Nya."
Kedua orang itu sangat terkejut dengan jawaban orang yang selama ini dianggap gila itu. Jawaban itu bukan jawaban orang yang tidak mampu berpikir, tetapi jelas jawaban orang yang selalu berpikir untuk menemukan Al-Haq. Sejak saat itu, orang-orang tidak menganggapnya gila. Ia hanya seseorang yang rindu akan Tuhan.
Menilai seseorang tidak boleh dilakukan hanya sebab kita tahu lahiriyahnya. Kita harus menggali dari dalam ruhaninya siapa sebenarnya ia. Kesalahan dalam melihat lahiriyah saja itu nyata, sebab seorang manusia terdiri dari dua bagian, yakni lahiriyah dan ruhaniyah. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Keduanya bersatu padu dalam diri seseorang untuk menunjukkan jati dirinya.
Semoga bermanfaat.
(Kisah Hikmah Para Sufi Dan Ulama Salaf)
